Ada Hikmah di Balik Covid-19
Mudah-mudahan wabah Covid-19 segera berakhir, karena dampaknya sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bukan saja menjadi penyebab angka kematian lebih tinggi, bukan saja menggerus roda perekonomian secara global, atau bukan saja menyetop aktivitas persekolahan yang dilakukan secara tatap muka. Dampak tersebut secara langsung masih dirasakan oleh semua penduduk baik yang tinggal di kota maupun di desa-desa. Kesemuanya dikawatirkan akan mengubah perilaku kehidupan ke arah yang distruktif karena secara terus-menerus dihadapkan kondisi yang tidak jelas, anomali.
Hal yang mengejutkan disinyalir bahwa akibat pemberlakuan kebijakan PSBB/ PPKM telah terjadi angka kelahiran yang meningkat. Faktor pembatasan aktivitas diluar rumah, membuat para Pasangan Suami Istri lebih meningkat dalam melakukan aktivitas hubungan suami istri. Jika hubungan tersebut tidak disertai penggunaan Alat Kontrasepsi, sangat mungkin angka kehamilan atau kelahiran akan meningkat pula. Jumlah kehamilan dan kelahiran ini bisa dilihat pada data kelahiran sekitar bulan Februari, Maret, April 2021, dengan membandingkan bulan-bulan sebelum terjadinya wabah Covid-19. Asumsinya adalah pemberlakuan PSBB dimulai sejak munculnya Virus Corona-19, dimulai pada Februari 2020 hingga memasuki tahun 2021.
Namun tentu tidak semuanya megakibatkan sesuatu yang bersifat negatif. Disisi lain keterkaitannya dengan aktivitas belajar-mengajar, khususnya yang bersifat non formal (diluar kelas) telah menarik keterlibatan para orang tua atau wali murid untuk terlibat, ikut serta mengikuti pelajaran anaknya ketika diberi tugas oleh guru kelas masing-masing. Meskipun mungkin dengan terpaksa akibat tuntutan dan kebutuhan belajar anak-anaknya. Tentu hal ini bagi mereka yang tidak buta huruf, telah menjadi peran pengganti seperti sebagai seorang guru kelas. “Jadi para orang tua, banyak yang menyimak kembali pelajaran yang pernah didapat dari bangku sekolahnya dahulu”. “Disamping ikut belajar IT dari HP yang dimiliki dari yang sebelumnya lebih sering hanya digunakan untuk sekedar bermain-main saja.”
Di masa pandemi Covid-19 ini, sebagian Sekolah Tingkat Dasar (SD) di daerah-daerah pedesaan, telah menerapkan kebijakan metode pembelajaran jarak jauh. Dengan kebijakan ini, para siswa harus bisa mengikuti terhadap kebutuhan belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring, teleconfrence dengan menggunakan internet.
Dina, namanya seorang siswi kelah 5 SD Desa Ngraji Kecamatan-Kabupaten Grobogan. Pada suatu hari mendapatkan tugas pelajaran dari gurunya melalui Zoom Meeting. Permasalahan yang didapatkan, kebetulan pulsa yang ia miliki sedang tidak mencukupi. Namun beruntung di rumah tetangganya memiliki Internet/Wifi yang memadai sehingga ia dapat memanfaatkan fasilitas yang dibutuhkan. “Dina memegang HP dan memakai masker, dengan lincahnya ia bisa membuka akun atau website yang dibagikan oleh gurunya, melalukannya teleconference, melalui aplikasi Zoom Meeting”. Aku merasa, kurang pintar dibanding anak-anak setingkat usia Sekolah Dasar sekarang. Ia sudah mampu menggunakan IT. Saya berhara pada hikmahnya dibalik kesulitan selama masa pandemi ini. Anak-anak tetap semangat belajar dengan menyesuaikan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Karena kebiasaan penggunaan IT yang sudah diperkenalkan sejak dini, diharapkan para siswa akan mudah beradaptasi dengan perkembangan penggunaan IT berikutnya. Yang secara otomatis merupakan bagian persyaratan menghadapi tantangan dunia global dalam bursa persaingan penggunaan sumber daya manusia yang berkualitas [Wasori]